Portal Berita Komunitas Sepak Bola Orang Indonesia



Perlu Dua Kiper Untuk Menahan Tendangan Bebasnya

Perlu Dua Kiper untuk Menahan Tendangan Bebasnya
December 04
23:43 2013

Bagi para penggemar berat klub Italia Lazio, masih ingatkah anda pertandingan leg pertama kala Lazio menjamu Sampdoria di Olympico musim 1998-1999? Lazio berhasil mencetak 5 gol untuk mengandaskan Il Samp dengan skor akhir 5-2. Dari  5 gol tersebut ada satu pemain dengan talenta luar biasa yang mampu mencetak hattrick lewat cara yang tak lazim.

Freekick Hattrick

13 Desember 1998, Lazio menjamu Sampdoria di giornata ke 13 Serie A. Lazio yang sedang dalam masa jayanya bersama sang presidan Sergio Cragnotti tampil percaya diri di hadapan 80 ribu Laziale. Diperkuat nama-nama seperti Marcelo Salas, Alen Boksic, Pavel Nedved, dan sederet nama beken lainnya Lazio tampil destruktif . Lazio mampu unggul 1-0 lewat sepakan bebas Sinisa Mihajlovic pada menit ke 29.  Saampdoria kemudian berhasil menyamakan lewat penalti Fransesco Palmieri di menit 37. Lazio kembali unggul, lagi-lagi lewat tembakan bebas Mihajlovic sesaat sebelum turun minum.
Calcio: Mihajlovic annuncia, lascio Serbia e vado alla Samp

Babak kedua berjalan menit 52 Sinisa Mihajlovic kembali mencetak gol sekaligus melengkapi hattrick nya. Kembali lewat tendangan bebasnya Mihajlovic berhasil mengoyak jala Fabrizio Ferron. Gol tersebut seakan memecut motivasi tim dan mampu melecut semangat Lazio untuk bisa mencetak 2 gol lagi masing-masing lewat Dejan Stankovic (82), dan Marcelo Salas (90). Sampdoria hanya mampu memperkecil lewat penalti kedua Fransesco Palmieri.

Pertandingan tersebut tidak akan dilupakan oleh pria kelahiran Vulkovar, 20 februari 1969. Mihajlovic mampu mencetak 3 gol dalam satu pertandingan dimana semua golnya lahir dari tendangan bebasnya. Hingga saat ini nama Sinisa Mihajlovic masih masuk dalam 10 besar pemain yang memiliki tendangan bebas paling mematikan di dunia. Dengan kecepatan tendangan 153 km/jam nama Mihajlovic bisa disejajarkan dengan The Tango Cannonbal Gabriel Omar Batistuta.

Keras dan akurat, sepakan mematikan Mihajlovic seakan menjadi bola api panas yang menakutkan bagi kiper-kiper lawan. Kemahirannya mengeksekusi bola-bola mati mengundang decak kagum baik dari kawan mmaupun lawannya. Bahkan allenatore asal Swedia Sven-Goran Eriksson mengatakan bahwa perlu dua kiper untuk menahan tendangan bebasnya.

Awal Karier

Sinisa Mihajlovic5Mihajlovic yang kini menangani Sampdoria mengawali karier sepakbolanya di sebuah klub kecil Yugoslavia bernama HNK Borovo pada musim 1986-1987. Mihajlovic muda sudah memperlihatkan bakatnya sebagai pesepakbola handal, kemahirannya mengeksekusi bola-bola mati juga sudah terlihat. Beberapa klub Yugoslavia pun berdatangan untuk melihat aksi anak muda yang memiliki tendangan menggelegar ini. Ivo Vhrovec bos klub Dinamo Zagreb beserta pelatihnya Ciro Blazevic bahkan menyempatkan diri untuk melihat langsung aksi Mihajlovic saat NHK Borovo bertanding melawan FK Rad  di tahun 1986.

Karena usia Mihajlovic yang baru menginjak 17 tahun para petinggi klub pun urung mengikatnya dengan Dinamo Zagreb. Namun ketertarikan Vhrovec dan Blazevic tidak berhenti, keduanya mengundang Mihajlovic untuk bermain bersama Dinamo Zagreb dalam sebuah turnamen klub usia muda di Jerman pada tahun 1987. Tampil impresif dalam turnamen tersebut Mihajlovic pun ditawari kontrak oleh Dinamo Zagreb. Namun tawaran dari klub elit Kroasia tersebut menempatkan Mihajlovic sebagai pemain pelapis keempat. Dinamo sebelumnya sudah memiliki tiga bek kiri mumpuni antara lain, Haris Skoro, Stjepan Deverić, dan andalan klub Marko Mlinarić.

Mihajlovic pun enggan jika bermain sebagai pengganti sekalipun itu di klub elit. Akhirya ia pun menolak tawaran tersebut dan memutuskan untuk meneruskan bermain untuk HNK Horovo. Musim 1988-1989 Mihajlovic pun dipinang oleh klub papan atas Yugoslavia FK Vojvodina Novi Sad. Mihajlovic datang ke kota Novi Sad bersama 4 pemain yang nantinya menjadi legenda sepakbola Yugoslavia antara lain Slavisa Jokanovic, Budimir Vujacic, dan Miroslav Tanjga.

Musim pertama bersama Vojvodina Mihajlovic langsung mengantar klub tersebut meraih gelar juara Liga Yugoslavia musim 1988-1989. Kesempatan untuk merasakan kerasnya atmosfir Piala Champions pun datang. Sayang Vojvodina harus takluk dari wakil Hungaria Budapest Honved setelah kalah dengan agregat 3-2. Penampilan impresif Mihajlovic pun tersorot oleh klub elit Yugoslavia Red Star Belgrade. 10 Desember 1990 Mihajlovic pun menandatangani kontraknya dengan Red Star Belgrade. Mihajlovic ditebus dengan mahar sebesar 1 juta Deutch Mark yang saat itu menjadi mata uang Yugoslavia. Ia dikontrak selama 4 tahun dengan gaji sebesar 240.000 Deutch Mark per tahun, plus sebuah mobil Mazda 323.Sinisa Mihajlovic8

Red Star 

Mihajlovic juga langsung tune-in bersama Red Star. Bersama Robert Prosinecki, Vladimir Jugovic, Dejan Savisevic, Darko Pancev, dan Miodrag Belodedici Mihajlovic juga langsung mengantar Red Star juara Liga Yugoslavia di tahun pertamanya. Bukan cuma itu, ia juga mampu mengantar Red Star berjaya di Eropa dengan menjuarai Piala Champions musim 1990-1991. Red Star Belgrade keluar sebagai juara setelah menumbangkan wakil Perancis Olympique Marseille lewat drama adu penalti dengan skor 5-3. Mihajlovic juga mengantar Red Star menjuarai Piala Intercontinental setelah berhasil mengalahkan wakil Chili Colo-colo dengan skor 3-0. Bersama Red Star Mihajlovic total bermain sebanyak 38 caps dan mencetak 9 gol selama 2 musim

Serigala Ibukota

Kariernya pun semakin menanjak saat ia dilirik oleh klub elit Italia AS Roma. Musim 1992-1993 Mihajlovic pun hijrah ke ibukota Italia dengan banderol 3.960.000 Poundsterling. Di Roma ia pun kembali bermain dengan sederet nama-nama beken seperti Aldair, Thomas Haessler, dan Claudio Caniggia. Sayang, ia tidak mampu memberi satupun gelar bagi AS Roma. Di ibukota Mihajlovic tampil di 54 laga dan mencetak 1 gol. Miskin prestasi bersama serigala ibukota, Mihajlovic pun hijrah ke kota Genoa bersama Sampdoria di musim 1994-1995.

Legenda Hidup Elang Ibukota

Mihajlovic ditransfer dari AS Roma dengan biaya 5.280.000 Poundsterling. Di Sampdoria Mihajlovic kembali bermain bersama kompatriotnya Vladimir Jugovic, sekaligus sebagai pertemyan pertamanya dengan pelatih kawakan Swedia Sven-Goran Eriksson. Ia kembali satu Sampdoria saat itu sedang memiliki kekuatan finansial dibawah kepemimpinan Enrico Mantovani. Selain Mihajlovic, Mantovani sukses mendaratkan serangkaian pemain kelas dunia antara lain Ruud Gullit, David Platt, Vladimir Jugovic, dan Walter Zenga. Namun lagi-lagi Mihajlovic hanya berstatus pemain mahal yang tidak mampu memberikan gelar. Selama 4 musim membela panji Il Samp Mihajlovic tampil sebanyak 110 laga dan mencetak 12 gol. mihajlovic1

Sven-Goran Eriksson yang menjadi pelatih Lazio musim 1998-1999 kemudian memboyong Mihajlovic kembali ke ibukota. Namun kali ini ia berada di kubu rival AS Roma. Sebagai salah satu bek terbaik dunia, Mihajlovic tentu memiliki harga yang tinggi. Lagi-lagi Mihajlovic bergabung dengan sebuah klub yang sedang berada di puncak kekuatan finansialnya. Lazio bersama Sergio Cragnoti menebus Mihajlovic dengan harga fantastis yaitu sebesar 14.960.000 Poundsterling.

Strategi menyerang yang diterapkan Sven-Goran Eriksson bisa menempatkan Mihajlovic sebagai gelandang kiri. Pergerakannya yang dinamis tak jarang merepotkan pemain belakang lawan kewalahan. Sebagai pemain bertahan Mihajlovic juga memiliki visi bertahan yang baik. Namun terkadang karakter tempramental yang dimilikinya kerap menjadi sorotan.

Di Lazio Mihajlovic pun kembali menjelma sebagai salah satu bek berkelas dunia. Ia menjadi bagian penting dari skuat Eriksson yang turut membawa Lazio meraih berbagai gelar domestik dan internasional. Musim pertama Mihajlovic langsung mengantar Lazio berjaya di Piala Winners 1998-1999 setelah mengalahkan Real Mallorca 2-1, lewat gol Christian Vieri dan Pavel Nedved. Di musim yang sama Mihajlovic juga meraih gelar Coppa Italia.

MIlan v Lazio Sinisa MihajlovicSemusim kemudian Mihajlovic yang sudah memasuki usia 30 tetap menyajikan permainan yang impresif. Di musim inilah ia berhasil mencetak rekor free kick hattrick kala Lazio mengalahkan Sampdoria 5-2. Musim itu juga Lazio berhasil merebut gelar Serie A keduanya dan menjuarai Piala Super Coppa Italia. Yang lebih fantastis adalah kala  Lazio menundukan Manchester United di Piala Super Eropa dengan skor 1-0. Kala itu Setan Merah sedang dalam masa jayanya setelah meraih gelar treble winner. Gol tunggal Marcelo Salas menyudahi perlawanan Roy Keane Cs sekaligus membawa Lazio sebagai kampiun Piala Super Eropa 1999.

Prestasi Mihajlovic bersama Lazio tak berhenti sampai disitu, musim 2000-2001 ia mengantar Lazio kembali menjuarai Piala Super Coppa Italia. Di musim terakhirnya bersama Lazio ia masih memberikan gelar Coppa Italia. Selama 6 musim membela panji Biancoceleste total ia mengemas 126 penampilan dan menccetak 20 gol. Mihajlovic juga berkontribusi memberikan 7 trofi bagi Elang Ibukota. Namanya kan senantiasa hidup dan dikenang oleh klub dan para suporter fanatik Lazio.

Akhir Karier Bersama Inter

Sinisa Mihajlovic2Musim 2004-2005 Mihajlvic hijrah ke Milan. Kali ini ia bergabung dengan La Beneamata Inter Milan. Inter begitu beruntung mendapatkan Mihajlovic dengan status bebas transfer. Meski usianya sudah tak muda lagi Mihajlovic tetap impresif dan mampu menjadi bagian penting Inter. Di usia senjanya ia masih mampu mengantar Inter merebut 4 gelar domestik antara lain Coppa Italia 2004-2005 dan 2005-2006, Super Coppa Italia 2005, dan gelar Serie A 2005-2006. Inter Milan adalah dermaga terakhir yang disinggahi Mihajlovic sebelum gantung sepatu bersama klub tersebut. Bersama Inter Mihajlovic tampil di 25 laga dan mengemas 5 gol.

Tim Nasional Dan Karier Sebagai Pelatih

Selain di level klub Sinisa Mihajlovic juga menjadi sosok penting Tim Nasional Yugoslavia. Sayangnya kegemilangannya di level klub tidak menular ke Tim Nasional. Kondisi negara Yugoslavia yang sedang dilanda perang saudara periode 1990-1995 membuat Timnas negara tersebut tidak berpartisipasi dalam berbagai ajang internasional. Mihajlovic turut membawa Yuguslavia melaju ke putaran final Piala Dunia 1998 di Perancis.

Penampilan impresif Yugoslavia di fase grup cukup menjadi sorotan kala itu. Terutama saat Yugoslavia berhasil menahan tim kuat Jerman di fase grup dengan skor 2-2. Mihajlovic juga turut mencetak gol tunggal kemenangan Yugoslavia atas Iran di fase grup. Langkah impresif  Yugoslavia harus terhenti di babak 16 besar oleh Belanda. Yugoslavia yang bermain spartan sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Dennis Bergkamp menit 38. Anak asuh Slobodan Santrac kemudian mampu menyamakan kedudukan lewat gol Slobodan Komljenovic. Gol Edgar Davids di menit akhir pertandingan akhirnya menyingkirkan Yugoslavia dari ajang 4 tahunan tersebut. Bersama Tim Nasional Yugoslavia Mihajlovic tampil selama 12 tahun, dengan 63 caps dan mengemas 5 gol.

Setelah Pensiun sebagai pemain Mihajlovic melanjutkan karirnya sebagai pelatih. Dimulai di tahun 2006 Mihajlovic menjadi asisten mantan rekannya di Sampdoria, Roberto Mancini yang menjadi suksesor Inter. Dua tahun menjadi asisten Mancini ia mendapat tawaran dari Bologna. Ia menjadi pelatih Bologna selama semusim periode 2008-2009. Karir kepelatihannya kemudian berlanjut bersama Catania di musim 2009-2010. Mihajlovic berhasil mengangkat Catania dari jurang degradasi, sayangnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri saat musim berakhir.Sinisa Mihajlovic9

Klub selanjutnya yang ia latih adalah Fiorentina di musim 2010-2011. Di awal musim Fiorentina mampu tampil mengejutkan, La Viola juga mampu menembus babak 16 besar Liga Champions sebelum dihentikan FC Bayern Muenchen. Sayang, Fiorentina tampil tidak konsisten pada pertengahan hingga akhir musim dan hanya finish di urutan 13.

Panggilan untuk melatih Tim Nasional Serbia pun datang kepadanya di musim 2012-2013.  Di Timnas Serbia pun ia kembali gagal, Mihajlovic yak mampu mengantar Serbia lolos ke Euro 2012. Musim ini ia baru saja menandatangai kontrak dengan klub yang pernah dibelanya semasa masih menjadi pemain, Sampdoria.

 

 

 

 

 

 

Baca Juga

Komentar

Berita Terkini

Fans Page Bolaskor


aktual.co